PEDOFILIA


Definisi Pedofilia

Pedofilia adalah kelainan seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Orang dengan pedofilia umurnya harus di atas 16 tahun, sedangkan anak-anak yang menjadi korban berumur 13 tahun atau lebih muda (anak pre-pubertas).

Dikatakan pedofilia jika seseorang memiliki kecenderungan impuls seks terhadap anak dan fantasi maupun kelainan seks tersebut mengganggu si anak.

Menurut DSM, pedofil (pedos, berarti “anak” dalam bahasa yunani) adalah orang dewasa yang mendapatkan kepuasan seksual melalui kontak fisik dan sering kali seksual dengan anak-anak prapubertas yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. DSM-IV-TR mensyaratkan para pelakunya minimal berusia 16 tahun dan minimal 5 tahun lebih tua dari si anak. Namun penelitian nampaknya tidak mendukung pernyataan DSM bahwa semua pedofil lebih menyukai anak-anak prapubertas; beberapa diantaranya menjadikan anak-anak pascapubertas sebagai korbannya, yang secara hukum belum cukup umur untuk diperbolehkan melakukan hubungan seks dengsn orang dewasa.
Pedofilia lebih banyak diidap oleh laki-laki dari pada perempuan. Gangguan ini sering kali komorbid dengan gangguan mood dan anxietas, penyalahgunaan zat dan tipe parafilia lainnya . Pedofil bisa heteroseksual atau homoseksual. Dalam beberapa tahun terakhir, internet memiliki peran yang ssemakin besar dalam pedofilia; para pedofil memanfaatkan internet untuk mengakses pornografi anak dan untuk menghubungi calon-calon korbannya.
Kekerasan jarang terjadi dalam pencabulan tersebut meskipun hal itu dapat terjadi, seperti yang kadang menarik perhatian orang dalam berbagai berita besar di media. Namun, meskipun sebagian besar pedofil tidak melukai korbannya secara fisik, beberapa di antaranya sengaja menakut-nakuti si anak dengan, misalnya membunuh hewan peliharaan si anak dan mengancam akan lebih menyakitinya jika si anak melapor kepada orang tuanya. Kadang pedofil senang membelai si anak, namun ia juga dapat memain-mainkan alat kelamn si anak, mendorong si anak untuk memain-mainkan alat kelaminnya, dan, lebih jarang terjadi, mencoba memasukkannya kea lat kelamin si anak. Pencabulan tersebut dapat langsung berlangsung selama beberpa minggu, bulan, atau tahun jika tidak diketahui oleh orang dewasa lain atau jika si anak tidak memperotesnya.
Sejumlah kecil pedofil, yang juga dapat diklasifikasikan sebagai sadistis seksual atau berkepribadian antisocial (psikopatik), menyakiti objek nafsu mereka secara fisik dan menyebabkan cedera serius. Mereka bahkan dapat membunuhnya. Para individu tersebut apakah psikopat atau bukan, mungkin lebih tepat disebut sebagai pemerkosa anak dan secara fundamental berbeda dengan pedofil terkait keinginan mereka untuk menyakiti si anak secara fisik minimal sampai mereka mendapatkan kepuasan seksual.
Para peneliti perilaku menggunakan dua alat genital untuk mengukur gairah seksual. Keduanya merupakan indicator yang sensitive terhadap vasokonjeksi di alat kelamin, yaitu kondisi dimana pembuluh darah dibanjiri dengan darah. Studi investigative mengenai respon seksual dari pelaku pedofil telah menghasilkan beberapa pola (Barbaree & Seto, 1997; LeVay & Valente). Beberapa studi menyatakan bahwa menggunakan pletismograph penile untuk mengukur respon rangsang terhadap stimulus seksual lebih tepat dibandingkan dengan mengandalkan self-report. Beberapa pria yang telah menganiaya anak perempuan yang tidak memiliki hubungan dengannya dibandingkan dengan yang tidak menunjukkan respon gairah seksual yang lebih besar terhadap gambar anak perempuan telanjang atau yang setengah telanjang dan gairah yang lebih besar terhadap beberapa gambar lainnya dibandingkan dengan gambar wanita dewasa. Tetapi beberapa penderita pedofil lainnya ada yang menunjukkan respon yang sama terhadap gambar anak perempuan dan wanita dewasa. Secara motivasi, banyak pedofil yang menunjukkan sikap pemalu dan introvert, padahal berkeinginan untuk menguasai atau mendominasi individu lain; beberapa juga termasuk mengidealkan aspek kekanak-kanakan seperti kemurnian, cinta yang polos, atau kesederhanaan.

Prevalensi Pedofilia

Di antara kasus parafilia yang dikenali, pedofilia adalah jauh lebih sering dibandingkan dengan yang lainnya. pedofilia lebih banyak terjadi pada laki-laki, tetapi tidak ada informasi yang pasti tentang prevalensinya.

Adanya prostitusi terhadap anak-anak di beberapa negara dan maraknya penjualan materi-materi pornografi tentang anak-anak, menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan seksual terhadap anak tidak jarang. Meskipun demikian, pedofilia sebagai salah satu bentuk perilaku seksual diperkirakan tidak secara umum terjadi.

Etiologi Pedofilia

Penyebab dari pedofilia belum diketahui secara pasti. Namun pedofilia seringkali menandakan ketidakmampuan berhubungan dengan sesama dewasa atau adanya ketakutan wanita untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa.

Jadi bisa dikatakan sebagai suatu kompensasi dari penyaluran nafsu seksual yang tidak dapat disalurkan pada orang dewasa. Kebanyakan penderita pedofilia menjadi korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak.

Diagnosis Pedofilia

Berdasarkan DSM-IV, seseorang dikatakan sebagai penderita pedofilia bila :

  • Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa aktivitas seksual dengan anak pre-pubertas atau anak-anak (biasanya berusia 13 tahun atau kurang).
  • Khayalan, dorongan seksual atau perilaku menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
  • Orang sekurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya berusia 5 tahun lebih tua dari anak-anak yang menjadi korban.

Klasifikasi Pedofilia

Pedofilia dapat diklasifikasikan ke dalam 5 tipe, yaitu :

1. Pedofilia yang menetap

Orang dengan pedofilia tipe ini, menganggap dirinya terjebak pada lingkungan anak. Mereka jarang bergaul dengan sesama usianya, dan memiliki hubungan yang lebih baik terhadap anak. Mereka digambarkan sebagai lelaki dewasa yang tertarik pada anak laki-laki dan menjalin hubungan layaknya sesama anak laki-laki.

2. Pedofilia yang sifatnya regresi

Di lain pihak, orang dengan pedofilia regresi tidak tertarik pada anak lelaki, biasanya bersifat heteroseks dan lebih suka pada anak perempuan berumur 8 atau 9 tahun.

Beberapa di antara mereka mengeluhkan adanya kecemasan maupun ketegangan dalam perkawinan mereka dan hal ini yang menyebabkan timbulnya impuls pedofilia. Mereka menganggap anak sebagai pengganti orang dewasa, dan menjalin hubungan layaknya sesama dewasa, dan awalnya bersifat tiba-tiba dan tidak direncanakan.

3. Pedofilia seks lawan jenis

Pria dengan pedofilia yang melibatkan anak perempuan, secara tipik didiagnosa sebagai pedofilia regresi. Pedofilia lawan jenis umumnya mereka menjadi teman anak perempuan tersebut, dan kemudian secara bertahap melibatkan anak tersebut dalam hubungan seksual, dan sifatnya tidak memaksa. Seringkali mereka mencumbu si anak atau meminta anak mencumbunya, dan mungkin melakukan stimulasi oral, jarang bersetubuh.

4. Pedofilia sesama jenis

Orang dengan pedofilia jenis ini lebih suka berhubungan seks dengan anak laki-laki ataupun anak perempuan dibanding orang dewasa. Anak-anak tersebut berumur antara 10 – 12 tahun. Aktivitas seksnya berupa masturbasi dengan cara stimulasi oral oleh anak-anak tersebut, dan berhubungan lewat anus.

5. Pedofilia wanita

Meskipun pedofilia lebih banyak oleh laki-laki, tetapi juga dilakukan oleh wanita, meskipun jarang dilaporkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perasaan keibuan pada wanita. Dan anak laki-laki tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sifatnya negatif, karenanya insidennya kurang dilaporkan. Biasanya melibatkan anak berumur 12 tahun atau lebih muda.

Diagnosis Banding Pedofilia

Perilaku seksual yang terbatas pada anak-anak saja tidak menjamin diagnosa pedofilia. Perlaku tersebut mungkin terpresipitasi oleh perselisihan dalam perkawinan, kehilangan yang terjadi dalam waktu dekat atau kesepian yang berkepanjangan. Pada keadaan-keadaan tersebut, ketertarikan pada anak-anak mungkin dapat dimengerti

Pada retardasi mental, sindrom perilaku organik dan hitoksikasi alkohol atau skizoprenia, mungkin terjadi penurunan kemampuan daya nilai, kemampuan sosial atau pengendalian impuls.

Biasanya hal tersebut, walaupun jarang akan membuat seseorang memiliki preferensi seksual yang terbatas pada anak-anak tetapi pada kebanyakan kasus, umumnya aktivitas seksual dengan anak-anak bukan merupakan hal yang mutlak untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Pada ekshibisionisme, paparannya mungkin pada anak, tetapi hal ini bukan merupakan suatu permulaan untuk melakukan aktivitas seksual pada anak-anak. Sadisme seksual, walaupun jarang, mungkin dapat dihubungkan dengan pedofilia, dimana pada kedua kasus ini, masing-masing diagnosa harus ditegakkan.

Pengobatan Pedofilia

Adapun pengobatan yang dapat diberikan pada pasien pedofilia adalah sebagai berikut :

1. Psikoterapi

Psikoterapi berorientasi tilikan adalah pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengobati pedofilia. Pasien memiliki kesempatan untuk mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan perkembangan penyakitnya.

Psikoterapi juga memungkinkan pasien meraih kembali harga dirinya dan memperbaiki kemampuan interpersonal dan menemukan metode yang dapat diterima untuk mendapatkan kepuasan seksual.

2. Terapi seks

Pelengkap yang tepat untuk pengobatan pasien yang menderita pedofilia, dimana mereka mencoba melakukan aktivitas seksual yang tidak menyimpang dengan pasangannya.

3. Terapi perilaku

Digunakan untuk memutuskan perilaku pedofilia. Stimuli yang menakutkan, seperti kejutan listrik atau bau menyengat, telah dipasangkan dengan impuls tersebut. stimuli dapat diberikan oleh diri sendiri dan digunakan oleh pasien bilamana mereka merasa bahwa mereka akan bertindak atas dasar impulnya.

4. Terapi obat

Termasuk medikasi antipsikotik dan antidepresan, adalah diindikasikan sebagai pengobatan skizoprenia atau gangguan depresif, bila pedofilia disertai dengan gangguan-gangguan tersebut.

Prognosis Pedofilia

Karena tidak adanya informasi yang dapat dipercaya dari berbagai studi follow-up, maka prognosis tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama penyimpangan seks, adanya gejala penarikan diri secara sosial maupun seksual dan kekuatan serta kelemahan kepribadian pasien. Tetapi perilaku ini biasanya tetap dilakukan pasien meskipun sudah diterapi.

Prognosis baik jika pasien memiliki riwayat koitus di samping pedofilia, jika pasien memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri, bukannya dikirim oleh badan hukum.

sumber:

http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/07/30/pedofilia/

About bidandelima

Bismillah... Cukuplah bl aq merasa mulia krn Engkau sbg Tuhan bagiq & cukuplh bila aq bangga bahwa aq mnjd hamba bagiMu. Engkau bagiq sebagaimana yg aq cintai, mk berilah aq taufik sebagaimna yg Engkau cintai. (Sayidina Ali Karamallahu Wajnah) "Ya Allah, Jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, jangan Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka" (Abu Bakar As-Shiddiq. ra)
This entry was posted in kehamilan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s