agen dan lingkungan sel


MODUL 1

AGEN LINGKUNGAN DAN SEL

 

Skenario:

“Benjolan Apakah Ini?”

.

Tn. Bimo, 30 tahun, datang ke dokter dengan keluhan demam naik turun sejak dua bulan yang lalu disertai timbulnya benjolan di leher di bawah telinga kiri dan terasa nyeri. Tn. Bimo juga mengeluhkan mudah lelah. Tn. Bimo tinggal sendirian di rumah kontrakannya dan mengonsumsi makanan dan minuman kaleng dengan alasan praktis selama hampir 8 tahun. Tn. Bimo adalah seorang insinyur yang bekerja di pertambangan batu bara sejak 6 tahun yang lalu dan setiap hari harus berada di terowongan bawah tanah. Dua minggu sebelum sakit, Tn. Bimo baru pulang dari Perancis, menemui tunangannya yang seorang wanita kulit putih.

Pada pemeriksaan fisik dokter menemukan suhu 38°C, konjungtiva subanemis, sklera tidak ikterik, pada leher ditemukan limfadenopati di region coli dextra, sebanyak tiga buah dengan ukuran sebesar kacang tanah, konsistensi padat, tidak terfiksir, nyeri tekan positif. Dokter membuat surat pengantar untuk pemeriksaan ronsen foto toraks, dan menganjurkan pemeriksaan Epstein Barr Virus.

Tn. Bimo bertanya pada dokter apakah benjolan ini kanker atau dapat berubah menjadi kanker? Bagaimana saudara dapat menjelaskan hubungan penyakit Tn. Bimo dengan lingkungan hidupnya sehari-hari?

.

A. Klarifikasi Terminologi

1.      Konjungtiva subanemis: Keadaan konjungtiva mata yang tidak terlalu pucat dan menandakan keadaan hampir anemis.

2.      Limfadenopati:  Pembesaran limfe secara abnormal yang belum diketahui penyebabnya. Limfadenopati merujuk kepada ketidaknormalan kelenjar getah bening dalam ukuran, konsistensi ataupun jumlahnya.

3.      Epstein Barr Virus:  Virus dari famili herpes, dan merupakan salah satu virus yang paling umum pada manusia. Banyak orang terinfeksi dengan Virus Epstein-Barr yang sering asimptomatik tetapi umumnya menyebabkan mononucleosis.

4.      Kanker:  Penyakit neoplastik karena sebab alamiah yang bersifat fatal, menunjukkan sifat-sifat invasi serta metastasis, dan dapat dibagi menjadi karsinoma dan sarkoma.

.

 

B. Menentukan Masalah

1.      Mengapa Tn. Bimo mengalami keluhan demam naik turun sejak dua bulan yang lalu?

2.      Mengapa Tn. Bimo mengeluhkan mudah lelah?

3.      Mengapa timbul benjolan di leher di bawah telinga kiri dan terasa nyeri?

4.      Apakah ada hubungan antara mengonsumsi makanan dan minuman kaleng selama 8 tahun dengan timbulnya benjolan di bawah leher?

5.      Apa penyebab timbulnya limfadenopati pada Tn. Bimo?

6.      Apa pengaruh pekerjaan di pertambangan batu bara dengan kesehatan Tn. Bimo?

7.      Apa hubungan Tn. Bimo pulang dari Perancis dengan kesehatannya?

8.      Mengapa dokter menyarankan pemeriksaan Epstein Barr Virus dan bagaimana penularan virus tersebut?

9.      Mengapa dokter juga membuat surat pengantar untuk pemeriksaan ronsen foto toraks?

10.  Apakah benjolan yang ada di bawah teling kiri Tn. Bimo itu termasuk kanker?

.

C. Analisis Masalah

1. Mengapa Tn. Bimo mengalami keluhan demam naik turun sejak dua bulan yang lalu?

Demam adalah mekanisme tubuh dalam menghantam virus atau infeksi bakteri sehingga tidak selalu berbahaya. Demam merupakan suatu gejala dan bukanlah penyakit. Seseorang dinyatakan demam bila menunjukkan suhu >37,5°C saat diukur dengan termometer.

Demam disebabkan oleh adanya zat di dalam tubuh yang membuat tubuh meningkatkan set point atau nilai ambang batas suhu tubuh. Zat ini disebut dengan pirogen. Pirogen dapat dihasilkan oleh virus, komponen bakteri, kerusakan jaringan, toksin, obat, bahkan penyakit otoimun.

Dengan kenaikan set point akibat pirogen, tubuh akan berusaha mencapai set point yang baru dengan menghasilkan panas dan menjaga agar panas yang dihasilkan tidak keluar dari tubuh. Proses menghasilkan panas tersebut dilakukan dengan menggigil, sehingga otot menghasilkan panas. Kemudian panas dijaga agar tidak keluar dengan mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriksi), sehingga suplai darah akan berkurang di sekitar tangan dan kaki.

Sehubungan dengan kasus pada skenario, salah satu kemungkinan penyebab timbulnya demam pada Tn. Bimo adalah infeksi virus Epstein Barr. Hipotesis ini diperkuat oleh fakta bahwa virus Epstein Barr merupakan salah satu penyebab infeksi mononucleosis. Infeksi mononucleosis adalah penyakit yang memiliki empat gejala utama, yaitu cepat lelah, demam, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati). Tn. Bimo mengalami tiga dari empat gejala utama infeksi mononucleosis tersebut. Selain itu, hipotesis ini juga dapat diperkuat oleh data pada skenario yang menyebutkan bahwa dokter menganjurkan agar Tn. Bimo melakukan pemeriksaan virus Epstein Barr.

.

2. Mengapa Tn. Bimo mengeluhkan mudah lelah?

Mudah lelah merupakan salah satu gejala infeksi mononucleosis akibat virus Epstein Barr (seperti hipotesis pada masalah nomor 1). Lelah juga dapat disebabkan oleh upaya tubuh Tn. Bimo, terutama sistem kekebalan tubuhnya, yang berusaha untuk melawan antigen yang masuk. Upaya tubuh tersebut memerlukan lebih banyak energi daripada saat keadaan tubuh normal, sehingga Tn. Bimo menjadi mudah lelah.

Selain itu, karena demam yang dialaminya, Tn. Bimo mungkin kehilangan nafsu makan, seperti yang biasa terjadi pada orang yang sedang demam. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara pasokan nutrisi dengan energi yang dikeluarkan Tn. Bimo. Sehingga, Tn. Bimo akan mudah lelah.

.

 

3. Mengapa timbul benjolan di leher di bawah telinga kiri dan terasa nyeri?

Benjolan di leher di bawah telinga kiri yang dialami Tn. Bimo kemungkinan besar juga merupakan limfadenopati. Terdapat beberapa penyebab timbulnya benjolan pada kelenjar limfe tersebut, antara lain:

1.      Peningkatan jumlah limfosit makrofag jinak selama reaksi terhadap antigen.

2.      Infiltrasi oleh sel radang pada infeksi yang menyerang kelenjar limfe.

3.      Proliferasi insitu dari limfosit maligna atau makrofag.

4.      Infiltrasi kelenjar oleh sel ganas metastatik.

5.      Infiltrasi kelenjar limfe oleh makrofag yang mengandung metabolit dalam penyakit cadangan lipid. (Harrison, 1999: 370).

Nyeri tekan (+) menandakan adanya proses peradangan yang terjadi sebagai akibat dari infeksi virus Epstein Barr.

.

4. Apakah ada hubungan antara mengonsumsi makanan dan minuman kaleng selama 8 tahun dengan timbulnya benjolan di bawah leher?

Makanan dan minuman kaleng mengandung zat pengawet yang bersifat karsinogenik. Zat karsinogenik tersebut berbahaya bagi tubuh karena zat tersebut merupakan agen kimia yang dapat menyebabkan jejas pada jaringan/organ tubuh.

Terdapatnya zat-zat yang membahayakan tubuh, seperti zat karsinogenik tersebut, merupakan salah satu penyebab terjadinya limfadenopati. Karena, limfosit-limfosit yang terdapat pada kelenjar getah bening akan berploriferasi sehingga cukup untuk mempertahankan tubuh dari serangan zat-zat karsinogenik.

.

5. Apa penyebab timbulnya limfadenopati pada Tn. Bimo?

Penyebab timbulnya limfadenopati yang paling sering adalah akibat proses infeksi. Infeksi yang biasanya terjadi adalah infeksi oleh virus pada saluran pernapasan bagian atas (rinovirus, virus parainfluenza, influenza, respiratory syncytial virus (RSV), coronavirus, adenovirus atau reovirus). Virus lainnya adalah virus ebstein barr, cytomegalovirus, rubela, rubeola, virus varicella-zooster, herpes simpleks virus, coxsackievirus, human immunodeficiency virus.

Keganasan seperti leukimia, neuroblastoma, rhabdomiosarkoma dan limfoma juga dapat menyebabkan limfadenopati. Penyakit lain yang salah satu gejalanya adalah limfadenopati adalah kawasaki, penyakit kolagen, dan lupus. Obat-obatan juga dapat menyebabkan limfadenopati umum. Limfadenopati daerah leher pernah dilaporkan setelah imunisasi (DPT, polio, atau tifoid).

Masing-masing penyebab tidak dapat ditentukan hanya dari pembesaran kelenjar getah bening saja, melainkan dari gejala-gejala lainnya yang menyertai pembesaran kelenjar getah bening. Berikut adalah skema yang menggambarkan beberapa kemungkinan diagnosis jika terjadi pembesaran kelenjar getah bening:Gambar 1. Alur Diagnosis Limfadenopati (Sumber: http://milissehat.web.id/?p=78)

6. Apa pengaruh pekerjaan di pertambangan batu bara dengan Tn. Bimo?

Pekerjaan Tn. Bimo di pertambangan batu bara (di bawah tekanan atmosfer) yang telah berlangsung selama 6 tahun yang lalu tidak berhubungan langsung dengan keluhan yang dia alami sekarang. Namun, pekerjaannya tersebut dapat mengakibatkan terjadinya jejas sel pada jaringan/organ tubuhnya. Hal tersebut terjadi akibat Tn. Bimo sering mengalami perubahan mendadak tekanan atmosfer. Perubahan tekanan atmosfer tersebut merupakan agen fisika yang dapat menyebabkan jejas pada jaringan/organ tubuh.

Seseorang yang bekerja pada terowongan (di bawah tekanan atmosfer) akan menghirup lebih banyak gas atmosfer (seperti O2 dan N2), sehingga gas-gas ini akan terlarut dalam darahnya dalam kadar yang lebih tinggi. Bila orang tersebut kembali ke tekanan normal terlalu cepat, gas-gas terlarut tersebut akan keluar dari darah secara cepat dan membentuk gelembung-gelembung udara dalam sirkulasi. Oksigen segera larut kembali, tetapi nitrogen kurang larut dan akan tetap sebagai gelembung-gelembung kecil yang dapat terjebak dalam sirkulasi mikro, menyekat aliran darah dan akhirnya berakibat jejas hipoksia pada sel-sel.

.

7. Apa hubungan Tn. Bimo pulang dari Perancis dengan kesehatannya?

Sesuai dengan hipotesis pada masalah nomor 1, Ebstein Barr Virus dapat menyebabkan penyakit infeksi mononukleosis. Penyakit ini ditularkan lewat oral/mulut, sehingga terkadang disebut juga sebagai penyakit kissing. Penyakit ini banyak terdapat pada daerah Amerika Utara dan negara-negara Eropa (salah satunya Prancis). Kemungkinan besar, Tn. Bimo tertular penyakit ini saat dia pergi ke Prancis. Jadi, virus Epstein Barr adalah salah satu agen biologi yang dapat mengakibatkan jejas pada jeringan/organ tubuh.

.

8. Mengapa dokter menyarankan pemeriksaan Epstein Barr Virus dan bagaimana penularan virus tersebut?

Dokter menganjurkan pemeriksaan Epstein Barr Virus karena salah satu kemungkinan penyakit yang Tn. Bimo derita adalah infeksi mononukleosis akibat virus Epstein Barr (sesuai hipotesis pada masalah 1).

Hipotesis tersebut juga diperkuat oleh skema pada Gambar 1. Berdasarkan skema tersebut, pembesaran kelenjar getah bening (KGB) yang hanya terjadi pada leher (KGB di daerah lainnya tidak membesar) yang terjadi akut (tidak menahun) dapat didiagnosis sebagai :

1. infeksi virus saluran nafas bagian atas

2. berhubungan dengan radang tonsil

3. infeksi mononucleosis (akibat Ebstein Barr Virus)

4. limfadenitis bakterialis

5. infeksi gigi

6. penyakit kawasaki

Pemeriksaan penunjang bila limfadenopati akut tidak diperlukan, namun bila berlangsung >2minggu dapat diperiksakan serologi darah untuk epstein barr virus, citomegalovirus, hiv, toxoplasma, tes mantoux, rontgen dada, dan biopsi dimana semuanya disesuaikan dengan tanda dan gejala yang ada dan yang paling mengarahkan diagnosis.

.

 

9. Mengapa dokter juga membuat surat pengantar untuk pemeriksaan ronsen foto toraks?

Pemeriksaan penunjang bila limfadenopati akut tidak diperlukan, namun bila berlangsung >2minggu dapat diperiksakan serologi darah untuk epstein barr virus, citomegalovirus, hiv, toxoplasma, tes mantoux, rontgen dada, dan biopsi dimana semuanya disesuaikan dengan tanda dan gejala yang ada dan yang paling mengarahkan diagnosis.

.

 

10. Apakah benjolan yang ada di bawah teling kiri Tn. Bimo itu termasuk kanker?

Bukan kanker, karena gejala-gejala yang timbul lebih mengarah kepada infeksi mononukleosis akibat Epstein Barr Virus.

.

 

..Skema..

.

 

 

E. Tujuan Pembelajaran/ Learning Objective (LO)

Mahasiswa mampu menjelaskan:

1.      Hubungan antara agen biologi dengan kesehatan

2.      Hubungan antara agen kimia dengan kesehatan

3.      Hubungan antara agen fisika dengan kesehatan

4.      Perbedaan antara gejala benjolan kanker dan benjolan bukan kanker

5.      Mekanisme perubahan sel yang terjadi akibat agen-agen tersebut

.

F. Pembahasan LO

1. Hubungan antara agen biologi dengan kesehatan

Penumpangan oleh agen hidup, yang berkisar ukuran dari virus submikroskopis sampai nematoda yang tampak dengan mata telanjang dapat menyerang manusia dan mengakibatkan jejas, kematian sel, atau kematian individu. Virus dan ricketsia merupakan parasit obligat intrasel, yaitu kelamgsungan hidupnya hanya di dalam sel-sel hidup. Interaksi antara virus dan sel hospes terjadi dalam beberapa bentuk. Banyak virus jelas menjadi parasit terhadap sel dengan tanpa mempengaruhinya; yang disebut “virus penumpang”. Virus yang menyebabkan perubahan pada sel dimasukkan dalam dua golongan besar, yaitu:

a.       agen yang mampu menyebabkan kematian sel (sitolisis), dan

b.      agen yang merangsang replikasi sel dan mungkin berakibat tumor (onkogen).

Seperti virus, pengaruh kuman hamper tidak terduga. Beberapa kuman bersifat komensal tidak berbahaya dan beberapa kuman lainnya bahkan membantu kehidupan manusia. Contohnya flora usus Escherichia coli yang merupakan sumber berharga vitamin K. Tetapi meskipun kuman ini dapat menyebabkan penyakit pada bayi yang memiliki sedikit atau tidak ada kekebalan terhadap organism yang sesungguhnya tidak berbahaya inin, atau pada orang dewasa yang lemah atau kurang kebal. Sama halnya, banyak individu mengandung banyak kuman yang potensial pathogen dalam orofaring, tetapi infeksi klinik yang terjadi secara bermaknsa hanya terjadi bila individu menjadi mudah terkena serangan.

Bagaimana kuman menyebabkan jejas dan penyakit pada sel tidak diketahui dengan jelas. Beberapa organisme membebeaskan eksotoksin yang mampu mengakibatkan jejas sel mulai dari tempat implantasi kuman. Agen lain melepaskan endotoksin yan hanya dibebeaskan pada keadaan disintegrasi organism. Selain itu, beberapa kuman dapat merusak sel dengan melepaskan berbagai macam enzim seperti lesitinase (Clostridium perfringens) yang mampu merusak selaput sel atau hemolisin. (Streptococcus beta hemoliticus) yang melisiskan sel darah merah. Mekanisme potensial lain yang menimbulkan jejas oleh kuman ialah timbulnya hipersensitivitas terhadap agen, yang berakibat reaksi imunologi yang menghancurkan.

Beberapa contoh agen biologi penyebab jejas sel lainnya, antara lain:

a.       Histoplasma, Coccidioidea dan Blastomyces mengakibatkan reaksi kepekaan, tetapi yang lain seperti Actinomyces tidak.

b.      Amebiasis disebabkan protozoa yang melepaskan enzim sitopati yang kuat dan dengan demikian menghancurkan jaringan tempatnya tertanam.

c.       Plasmodia malaria menginvasi dan merusak sel darah merah dengan melepaskan metabolit beracun maupun pigmen malaria yang berasal dari hemoglobin. Akan tetapi, agen penyebab toksoplasmosis merupakan protozoa obligat intrasel yang menyebabkan kerusakan jaringan nyata oleh mekanisme yang tidak jelas di tempat lokasinya.

d.      Agen trikinosis terutama menginvasi otot bergaris (jantung dan skelet) dan akhirnya merusaak sel-sel yang dihinggapi parasit.

e.       Cacing Trichina dapat merampas tenaga yang dibekalkan pada sel atau mungkin menghasilkan produk metabolik akhir yang beracun, tetapi penjelasan ini spekulatif.

f.       Filariasis ditandai oleh fibrosis luas di tempat lokasinya, tetapi kita tidak mengetahui setepat-tepatnya mengapa terjadi radang fibrosis.

.

2. Hubungan antara agen kimia dengan kesehatan

Bahan kimia dan obat-obatan merupakan penyebab penting adaptasi, jejas, dan kematian sel. Sebenarnya setiap agen kimia atau obat dapat dilibatkan. Meskipun bahan yang tidak berbahaya, seperti glukosa, bila konsentrasinya cukup, demikian dapat merusak lingkungan osmosa sel yang berakibat jejas atau kematian sel tersebut. Agen-agen yang sering diketahui sebagai racun dapat menyebabkan kerusakan hebat pada sel dan kemungkinan kematian seluruh organism. Banyak bahan kimia ini dan obat-obatan yang berdampak terjadinya perubahan pada beberapa fungsi vital sel, seperti permeabilitas selaput, homeostasis osmosa atau keutuhan enzim dan kofaktor. Telah dijelaskan sebelumnya, masing-masing agen biasanya memiliki sasaran khusus dalam tubuh, mengenal beberapa sel dan tidak menyerang sel lainnya. Pada beberapa kasus, sifat selektif ini mencerminkan populasi sel yang dilibatkan dalam penyerapan, engangkutan, dan metabolism agen. Barbiturat menyebabkan perubahan pada sel hati, karena sel-sel ini yang terlibat dalam degradasu ibat tersebut. Bila merkuri klorida tertlan diserap dari lambung dan dikeluarkan melalui ginjal dan usus besar. Jadi menimbulkan dampak utama pada alat-alat tubuh ini. Tetapi, kita tidak selalu mempunyai penjelasan yang memuaskan tentang serangan yang selektif banyak bahan kimia dan obat-obatan yang menyebabkan perubahan sel.

.

3. Hubungan antara agen fisika dengan kesehatan

Suatu sel yang terpapar suatu tekanan akan melangalami adaptasi, jejas reversible, jejas irreversible, dan kematian secara berturut-turut, tergantung beratnya paparan stressor. Jejas yang bersifat reversible berarti jika penyebab ditiadakan, perubahan morfologi dan fungsi yang dialami oleh suatu sel akan hilang. Sedangkan jejas yang bersifat irreversible berarti kerusakan akan tetap ada atau berlanjut walaupun penyebabnya dihilangkan. Lama kelamaan, jejas  irreversible ini akan dapat mengakibatkan kematian.

Trauma, panas atau dingin yang luar biasa, perubahan mendadak tekanan atmosfer, tenaga radiasi dan tenaga listrik, semuanya memiliki dampak luas pada sel. Trauma mekanik dapat menyebabkan sedikit pergeseran tapi nyata, pada organisasi organel intrasel atau pada keadaan lain yang ekstrem, dapat merusak sel secara keseluruhan.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang agen fisika yang dapat mengakibatkan jejas pada sel:

1. Radiasi

Terdapat dua kenis radiasi, yaitu:

a.       Radiasi pengion

Radiasi pengion memiliki frekuensi tinggi yang panjang gelombang pendek. Radiasi jenis ini dapat menyebabkan ionisasi atom sehingga merusak susunan normal dari atom yang menyusun sel tubuh. Terdapat dua tipe radiasi pengion, yaitu gelombang elektromagnetik (contohnya: sinar X dan sinar γ) dan partikel (contohnya: sinar α, sinar β, proton, neutrons, mesons, dan deutron).

b.      Radiasi non pengion

Radiasi non pengion memiliki frekuensi rendah dan panjang gelombang panjang. Contoh dari radiasi tipe ini adalah infrared dan sinar ultraviolet.

Tingkat kerusakan sel akibat radiasi ini tergantung kepada dosis radiasi yang dipaparkan. Berikut adalah pembagiannya:

Ø  10 gray     : nekrosis

Ø  1-2 gray   : proliferasi sel dihentikan

Ø  <0,5 gray : tidak ada efek histopatologi

Gray adalah unit dasar untuk mengukur radiasi. Dosis yang diberikan satu kali (single dose) dapat menyebabkan kerusakan yang hebat jika dibandingkan dengan dosis terbagi. Sel yang aktif membelah (seperti: sel hematopoietic, sel benih, epitel gastrointestinal, epitel squamosa, sel endothelial, dan limfosit) lebih sensitif dibandingkan dengan sel yang tidak aktif membelah (seperti: tulang, kartilago, otot, dan saraf perifer). Sel pada fase mitosis dari siklus suatu sel juga akan lebih sensitif.

 

2. Suhu yang ekstrem

a.       Luka bakar

Tampilan klinis penderita luka bakar tergantung kepada beberapa factor, yaitu:

Ø  Dalamnya luka

Ø  Presentase tubuh yang mengalami luka

Ø  Apa disertaidengan trauma lainnya

Ø  Apakah pasien mendapatkan terapi yang maksimal

Luka bakar yang mengenai tubuh lebih dari 50% permukaan tubuh potensial untuk fatal. Terjadi perpindahan cairn tubuh ke jaringan interstitial sehingga dapat menimbulkan shock hipovolemik. Akibat protein darah masuk ke jaringan interstitial adalah akan terjadi edema generalisata. Selain itu, juga akan terjadi peningkatan tekanan osmotik interstitial local akibat dilepaskannya yang bersifat aktif osmotic dan yang bersifat meurogenik dari sel yang mati.

b.      Hipertermia

Suhu tinggi yang merusak tentu dapat membakar jaringan, tetapi jauh sebelu titik bakar ini dicapai, suhu yang meningkat berakibat jejas dengan akibat hipermetabolisme, melampaui kamampuan perbekalan darah yang tersedia. Hipermetabolisme juga menyebabkan penimbunan asam metabolit, yang merendahkan pH sel sehingga mencapai tingkat bahaya.

Terpapar suhu yang tinggi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan:

Ø  Heat cramps: mengakibatkan kehilangan elektrolit melalui peluh.

Ø  Heat exhausted: terjadi mendadal, akibat kegagalan kompensasi sistem kardiovaskuler akibat berkurangnya intake cairan.

Ø  Heat stroke: terpapar panas yang lama dengan kelembapan yang tinggi. Mekanisme termoregulator gagal dengan peluh yang banyak, pori kulit terbuka lebar, vasodilatasi perifer yang berakibat volume darah berkurang secara bermakna. Pada keadaan ini dapat terjadi kematian otot dan miokardium.

c.       Hipotermia

Terpapar suhu yang rendah dalam waktu yang lama (seperti tunawisma dan orang yang memakai baju basah dalam waktu lama) akan mengalami hipotermia. Trauma pada sel dan jaringan akibat hipotermia terjadi melalui mekanisme sebagai berikut:

Ø  Efek langsung : trauma fisik pada organel dalam sel dan tingginya konsentrasi garam yang mengakibatkan kristalisasi cairan intra dan ekstrasel.

Ø  Efek tidak langsung : perubahan sirkulasi yang tergantung kepada kecepatan penurunan suhu dan lamanya.

Perubahan suhu yang terjadi perlahan akan mengakibatkan vasokonstriksi dam meningkatkan permeabilitas sehingga menyebabkan terjadinya edema dan dapat diikuti atrofi dan fibrosis. Sedangkan perubahan yang terjadi tiba-tiba dapat mengakibatkan vasokonstriksi dan meningkatnya kekentala darah sehingga mengakibatkan iskemia dan kerusakan pada saraf perifer yang dapat berkembang menjadi gangren.

3.      Perubahan tekanan udara yang tiba-tiba

Perubahan mendadak tekanan atmosfer juga dapat berakibat gangguan perbekalan darah untuk sel-sel. Penyelam lautan dalam atau penggali terowongan, bila bekerja di bawah tekanan atmosfer gas-gas atmosfer yang terlarut dalam darah mereka kadarnya lebih tinggi. Bila orang ini kembali ke tekanan normal terlalu ceat, gas-gas yang terlarut keluar dari larutan secara cepat dan membentuk gelembung-gelembung udara dalam sirkulasi. Oksigen segera dilarut kembali, tetapi nitrogen kurang larut dan tetap sebagai gelembung-gelembung kecil yang dapat terjebak dalam sirkulasi mikro, menyekat aliran darah dan akhirnya berakibat jejas hipoksia pada sel-sel. Kelainan ini disebut “penyakit caisson”.

4.      Aliran listrik

Tenaga listrik memancarkan panas bila melewati tubuh dan oleh karena itu dapat menyebabkan luka bakar, tetapi lebih penting lagi, dapat mengganggu jalur konduksi saraf dan sering berakibat kematian karena artimi jantung. Luas kerusakan yang disebabkan arus listrik tergantung pada tegangan dan kuat arusnya, tahanan jaringan (karena timbulnya panas) dan jalur yang dilewati arus dari titik masuk tubuh ke titik keluarnya.

5.      Trauma mekanik.

.

4. Perbedaan antara gejala benjolan kanker dan benjolan bukan kanker

Perbedaan yang paling mendasar antara benjolan kanker dan benjolan yang bukan kanker adalah ada/tidaknya rasa nyeri saat ditekan. Nyeri tekan yang positif menandakan adanya proses infeksi. Sedangkan kanker tidak akan menimbulkan nyeri tekan positif. Memang kanker stadium lanjut akan menimbulkan rasa sakit, namun tentu kanker stadium lanjut telah dapat dibedakan dari benjolan infeksi biasa dikarenakan ukurannya yang luas.

.

5. Mekanisme perubahan sel yang terjadi akibat agen-agen tersebut

Secara umum, agen-agen penyebab jejas sel/jaringan akan mengkibatkan perubahan/kerusakan dengan mempengaruhi morfologi atau fisiologi suatu sel. Perubahan yang paling mendasar terjadi pada gen yang terdapat dalam inti masing-masing sel tersebut. Pada gen, terdapat bagian yang disebut dengan promoter dan protoonkogen. Keduanya berperan penting dalam proses ekspresi sifat-sifat oleh gen atau dalam proses sintesis protein.

Jika suatu sel terpapar agen penyebab jejas dan sampai kepada gen tersebut, maka sifat yang diekspresikan atau protein yang disintesis oleh gen tersebut akan mengalami perubahan. Jika yang terpapar adalah bagian promoter, maka sifat yang diekspresikan atau protein yang disintesis akan diproduksi dalam jumlah yang berlebihan, walaupun jenis produknya masih normal. Namun jika yang terpapar adalah bagian protoonkogen, maka jenis produk yang dihasilkan akan mengalami perbuhan. Keduanya sama-sama berakibat buruk pada kelangsungan hidup sel.

 

About bidandelima

Bismillah... Cukuplah bl aq merasa mulia krn Engkau sbg Tuhan bagiq & cukuplh bila aq bangga bahwa aq mnjd hamba bagiMu. Engkau bagiq sebagaimana yg aq cintai, mk berilah aq taufik sebagaimna yg Engkau cintai. (Sayidina Ali Karamallahu Wajnah) "Ya Allah, Jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, jangan Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka" (Abu Bakar As-Shiddiq. ra)
This entry was posted in kehamilan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s